mik.umsida.ac.id – Pelayanan rumah sakit sering kali dinilai dari kecepatan dan ketepatan penanganan pasien. Namun, di balik sistem yang tampak berjalan tersebut, terdapat tantangan besar yang jarang terlihat, yakni kualitas sumber daya manusia (SDM) dan beban kerja tenaga kesehatan yang tidak seimbang.
Riset mahasiswa dan dosen Manajemen Informasi Kesehatan (MIK) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) mengungkap bahwa faktor SDM menjadi salah satu penentu utama dalam kelancaran sistem pelayanan rumah sakit, khususnya dalam pengelolaan administrasi dan klaim pasien .
Kualitas SDM Menjadi Fondasi Pelayanan Rumah Sakit

Dalam sistem pelayanan kesehatan modern, tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan klinis, tetapi juga kompetensi administratif, terutama dalam pengelolaan rekam medis dan proses pengkodean penyakit.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan tenaga kesehatan, khususnya coder, sangat berpengaruh terhadap kualitas kerja.
Lihat Juga: Ingin Tahu Efisiensi Kinerja Rumah Sakit ? Yuk Baca Buku Karya Dosen Umsida Ini
Di lapangan, ditemukan bahwa tenaga coder tidak selalu berasal dari bidang rekam medis yang spesifik, melainkan dari latar belakang lain seperti keperawatan.
“Pendidikan yang lebih spesifik dalam rekam medis menjadi kunci untuk meningkatkan kompetensi dalam proses pengkodean,” dijelaskan dalam hasil penelitian.
Ketidaksesuaian latar belakang pendidikan ini dapat memengaruhi ketepatan dalam proses pengkodean diagnosis dan tindakan medis. Padahal, akurasi kode sangat menentukan kelancaran proses klaim dan pembiayaan layanan kesehatan.
Selain itu, tingkat pengetahuan tenaga kesehatan juga menjadi faktor penting. Pengetahuan yang baik akan membantu tenaga medis dalam menjalankan tugas secara tepat dan sesuai standar yang berlaku.
Beban Kerja Tinggi Berdampak pada Kualitas Layanan
Selain kualitas SDM, penelitian juga menyoroti tingginya beban kerja tenaga kesehatan sebagai faktor krusial yang memengaruhi pelayanan rumah sakit.
Dalam kasus yang diteliti, satu tenaga coder harus menjalankan berbagai peran sekaligus, mulai dari pengkodean hingga tugas lain di bidang pelayanan kesehatan.
Cek Lainnya: Di Balik Layanan Rumah Sakit, Rekam Medis dan Coding Jadi Penentu Utama
Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara jumlah tenaga kerja dan beban pekerjaan yang harus ditangani. Akibatnya, potensi kesalahan dalam proses kerja menjadi lebih besar, termasuk dalam pengolahan data pasien dan pengkodean diagnosis.
“Beban kerja yang tinggi dapat memengaruhi tingkat akurasi dan efektivitas kerja tenaga kesehatan,” sebagaimana dijelaskan dalam penelitian tersebut.
Hal ini diperkuat dengan temuan bahwa beban kerja yang berlebihan dapat menurunkan kualitas hasil kerja, terutama dalam proses yang membutuhkan ketelitian tinggi seperti pengkodean medis.
Tidak hanya itu, keterbatasan tenaga juga membuat proses kerja menjadi tidak optimal, sehingga berpotensi menimbulkan keterlambatan dalam pelayanan administrasi maupun klinis.
Kurangnya Pelatihan dan Komunikasi yang Efektif

Penelitian ini juga mengungkap bahwa kurangnya pelatihan menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi SDM di rumah sakit. Tenaga kesehatan, khususnya coder, belum mendapatkan pelatihan khusus terkait sistem klaim dan pengkodean medis.
“Belum pernah mengikuti pelatihan terkait klaim BPJS menjadi salah satu kendala dalam meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan,” ungkap hasil penelitian.
Padahal, pelatihan sangat penting untuk meningkatkan keterampilan dan pemahaman tenaga kesehatan terhadap sistem yang terus berkembang.
Baca Juga: MIK Umsida Siap Menjawab Tantangan Digitalisasi Layanan Kesehatan dengan Rekam Medis Elektronik
Selain itu, faktor komunikasi juga menjadi perhatian penting. Kurangnya koordinasi antara tenaga medis, seperti coder dan dokter penanggung jawab pelayanan, dapat menyebabkan ketidaksesuaian data dan memperlambat proses kerja.
Komunikasi yang tidak efektif tidak hanya berdampak pada administrasi, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas pelayanan secara keseluruhan.
Melalui temuan ini menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM, penyesuaian beban kerja, serta penguatan pelatihan dan komunikasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas layanan rumah sakit.
Dengan perbaikan di aspek tersebut, rumah sakit tidak hanya mampu memberikan pelayanan yang lebih cepat dan akurat, tetapi juga menjaga keberlanjutan sistem kesehatan secara menyeluruh.
Sumber: Riset Mahasiswa MIK Umsida
Penulis: Elfira Armilia

















