mik.umsida.ac.id – Pelayanan rumah sakit sering dinilai dari cepat atau lambatnya penanganan pasien. Padahal, ada proses panjang di balik layanan itu yang tidak selalu terlihat oleh masyarakat.
Salah satu persoalan yang kerap luput dari perhatian adalah komunikasi antar tenaga medis. Ketika komunikasi tidak berjalan efektif, dampaknya tidak hanya terasa pada administrasi, tetapi juga bisa memengaruhi mutu layanan kesehatan secara keseluruhan.
Hal inilah yang tampak dalam riset mahasiswa dan dosen Manajemen Informasi Kesehatan (MIK) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Penelitian tersebut menelaah faktor-faktor yang memengaruhi keterlambatan klaim rawat inap di rumah sakit dan menemukan bahwa hambatan komunikasi menjadi salah satu masalah penting di balik proses pelayanan.
Lihat Juga: Angkat Isu Kesehatan Mental, Mahasiswa MIK Umsida Juara 3 Tingkat Nasional
Ketika Informasi Medis Tidak Tersambung dengan Baik

Di rumah sakit, setiap tenaga kesehatan memiliki peran yang saling berkaitan. Dokter menegakkan diagnosis dan menentukan tindakan, perawat menjalankan asuhan, sementara petugas rekam medis dan coder memastikan seluruh informasi terdokumentasi dengan benar.
Jika salah satu bagian tidak terhubung dengan baik, maka proses berikutnya ikut terganggu.
Dalam riset tersebut, masalah komunikasi tampak dari hubungan antara coder dengan DPJP atau dokter penanggung jawab pelayanan.
Ketika ada ketidaksesuaian diagnosis, tindakan, atau resume medis, coder seharusnya dapat melakukan klarifikasi agar proses pengkodean berjalan tepat. Namun, komunikasi yang tidak efektif membuat proses ini tidak selalu berjalan lancar.
Persoalan ini terlihat sederhana, tetapi sebenarnya sangat menentukan.
Baca Juga: Masalah Klaim BPJS Bisa Ganggu Layanan Rumah Sakit, Ini Penjelasannya
Pengkodean penyakit dan tindakan medis bukan hanya urusan administratif. Ketepatannya memengaruhi kelancaran klaim, ketertiban data pasien, hingga keberlanjutan pembiayaan rumah sakit.
Jika komunikasi tersendat, maka kesalahan kecil dapat berubah menjadi masalah yang lebih besar.
Kondisi ini juga menunjukkan bahwa pelayanan rumah sakit tidak cukup hanya ditopang oleh kompetensi individu. Rumah sakit membutuhkan alur komunikasi yang sehat agar tiap profesi dapat bekerja dalam ritme yang sama.
Dalam lingkungan kerja yang cepat dan penuh tekanan, miskomunikasi justru bisa menjadi celah yang paling sering diabaikan.
Hambatan Komunikasi Bisa Menjadi Masalah Sistemik
Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah bahwa hambatan komunikasi tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan sikap, kebiasaan kerja, pelatihan, dan dukungan organisasi.
Dalam penelitian tersebut, faktor predisposisi yang diprioritaskan justru adalah sikap, yang salah satunya berkaitan dengan respons coder dan pola komunikasi dengan DPJP.
Artinya, masalah komunikasi antar tenaga medis bukan sekadar soal siapa yang kurang aktif bertanya atau siapa yang lambat merespons. Ini sudah masuk pada persoalan budaya kerja.
Jika klarifikasi dianggap merepotkan, jika koordinasi tidak dibiasakan, atau jika penyelesaian masalah dilakukan sendiri-sendiri, maka risiko keterlambatan dan ketidaktepatan akan terus berulang.
Cek Selengkapnya: Teknologi AI Bantu Deteksi Osteoarthritis Lebih Cepat dan Akurat
Dalam dunia kesehatan, situasi seperti ini berbahaya. Rumah sakit adalah tempat yang menuntut akurasi tinggi dan keputusan cepat.
Ketika tenaga medis bekerja tanpa komunikasi yang cukup, kesalahan informasi bisa menjalar dari satu unit ke unit lain. Pada akhirnya, dampaknya tidak berhenti di meja administrasi, tetapi juga bisa memengaruhi pengalaman pasien dalam memperoleh pelayanan.
Dengan kata lain, komunikasi yang buruk bukan persoalan personal semata. Ia bisa berubah menjadi masalah sistemik yang memengaruhi kinerja organisasi kesehatan secara menyeluruh.
Rumah Sakit Perlu Membangun Budaya Kolaborasi

Riset ini memberi pesan penting bahwa rumah sakit perlu membangun budaya kolaborasi yang lebih kuat. Komunikasi antar tenaga medis seharusnya tidak terjadi hanya saat ada masalah, tetapi menjadi bagian dari proses kerja sehari-hari.
Klarifikasi diagnosis, sinkronisasi data, dan penyamaan persepsi harus dipandang sebagai kebutuhan dasar, bukan beban tambahan.
Untuk itu, rumah sakit tidak cukup hanya mengandalkan SOP tertulis. Dibutuhkan penguatan pada pelatihan komunikasi, pembiasaan kerja lintas profesi, dan dukungan atasan agar koordinasi berjalan lebih terbuka.
Riset ini juga menunjukkan bahwa pelatihan terkait klaim dan pengkodean masih belum optimal. Padahal, pelatihan bukan hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga membantu menyamakan pemahaman antarprofesi dalam satu alur pelayanan.
Rumah sakit modern membutuhkan tenaga medis yang tidak hanya ahli di bidangnya, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan baik dalam tim. Sebab, pelayanan kesehatan bukan pekerjaan individual. Ia adalah hasil dari banyak keputusan kecil yang harus saling terhubung secara tepat.
Pada akhirnya, masalah komunikasi antar tenaga medis mengajarkan satu hal penting: kualitas layanan rumah sakit tidak hanya dibangun oleh alat yang canggih atau prosedur yang lengkap, tetapi juga oleh kemampuan orang-orang di dalamnya untuk saling memahami saling mengonfirmasi, dan bekerja bersama dalam tujuan yang sama.
Sumber: Riset Mahasiswa MIK Umsida
Penulis: Elfira Armilia

















