mik.umsida.ac.id – Kolaborasi lintas profesi kini menjadi kunci utama dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
Di tengah sistem rumah sakit yang semakin kompleks, setiap profesi dituntut tidak hanya memahami perannya sendiri, tetapi juga mampu bekerja selaras dengan profesi lain demi keselamatan pasien.
Pengalaman inilah yang dirasakan langsung oleh mahasiswa D4 Manajemen Informasi Kesehatan (MIK) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FIKES Umsida) melalui keterlibatan mereka dalam kegiatan Interprofessional Education (IPE) di lingkungan rumah sakit pendidikan.
Melalui IPE, mahasiswa tidak sekadar belajar teori kolaborasi, tetapi terjun langsung dalam praktik kerja tim antarprofesi.
Pada studi kasus Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) yang berlangsung di Rumah Sakit Universitas Airlangga (Rumah Sakit Universitas Airlangga), mahasiswa D4 MIK Umsida mengambil peran strategis dalam mendukung proses pelayanan pasien berbasis data yang akurat dan aman.
Baca Juga: 3 Mahasiswa Fikes Umsida Raih Juara 1 Poster PKM-RE dalam Ajang Pimtanas 2025
Peran Strategis Mahasiswa D4 MIK dalam Kolaborasi IPE

Dosen D4 MIK Umsida, Resta Dwi Y. STr Kes M KM menjelaskan bahwa pelaksanaan IPE menekankan pentingnya komunikasi dan kolaborasi antarprofesi dalam satu tim pelayanan kesehatan.
Dalam konteks tersebut, mahasiswa MIK memiliki kontribusi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
“Dalam kegiatan IPE, selalu ada komunikasi dan kerja sama yang dilakukan oleh dua atau lebih profesi untuk pelayanan pasien.
Peran mahasiswa D4 MIK sangat terlihat pada proses identifikasi pasien sejak pendaftaran, karena ini menjadi fondasi dari seluruh layanan kesehatan,” ungkapnya.
Lihat Juga: Mahasiswa MIK UMSIDA Laksanakan Pelayanan Kesehatan
Ia menegaskan bahwa kesalahan dalam identifikasi pasien dapat berdampak serius.
“Jika identifikasi tidak dilakukan dengan tepat, misalnya pasien memiliki alergi obat tetapi tidak terdata dengan benar, hal tersebut bisa menyebabkan kesalahan tindakan hingga malpraktik,” jelas Resta.
Selain itu, mahasiswa D4 MIK juga menyoroti aspek kodifikasi penyakit dan tindakan, khususnya pada kasus DMG.
Kodifikasi merupakan kompetensi inti Perekam Medis dan Informasi Kesehatan (PMIK) yang berperan dalam menjaga konsistensi data klinis, akurasi laporan medis, hingga kelancaran klaim dan evaluasi pelayanan.
Melalui keterlibatan langsung dalam IPE, mahasiswa memahami bahwa data yang mereka kelola memiliki dampak langsung terhadap keputusan klinis tenaga kesehatan lain.
Lingkungan RSUA sebagai Ruang Belajar Kolaborasi Nyata

Resta Dwi menegaskan bahwa Rumah Sakit Universitas Airlangga bukan ditetapkan secara khusus oleh Umsida sebagai lokasi IPE.
Melainkan menjadi bagian dari agenda terstruktur yang diselenggarakan oleh pihak rumah sakit dalam rangkaian Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa.
“Pada kesempatan ini, Umsida menjadi salah satu peserta IPE karena agenda tersebut memang dirancang oleh RSUA dalam pelaksanaan PKL. Kebetulan mahasiswa D4 MIK Umsida sedang menjalani PKL di sana pada periode 26 Januari – 13 Februari 2026,” jelasnya.
Sebagai rumah sakit pendidikan, RSUA menghadirkan lingkungan belajar yang dinamis dan realistis.
Mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan sistem informasi kesehatan, tetapi juga terlibat dalam diskusi lintas profesi bersama dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya.
Kondisi ini mendorong mahasiswa untuk memahami alur pelayanan pasien secara utuh, mulai dari administrasi hingga tindak lanjut klinis.
Pengalaman tersebut memperkuat pemahaman mahasiswa bahwa pelayanan kesehatan tidak dapat berjalan secara parsial.
Setiap profesi memiliki peran dan batasan masing-masing yang harus dihormati dalam kerangka kerja tim yang saling mendukung.
Cek Selengkapnya:Dorong Mutu Pendidikan Kesehatan, FIKES Umsida Bahas Kurikulum OBE Bersama Politeknik Indonusa Surakarta
IPE Menanamkan Patient-Centered Care dan Etika Kerja Tim

Melalui IPE, mahasiswa D4 MIK Umsida semakin memahami pergeseran paradigma pelayanan kesehatan menuju patient-centered care. Kolaborasi, komunikasi efektif, dan koordinasi menjadi elemen utama dalam memastikan pelayanan yang aman dan bermutu.
“Dengan adanya IPE, mahasiswa memahami peran dan batasan masing-masing profesi kesehatan. Tidak ada lagi profesi yang mendominasi, karena fokus utama pelayanan saat ini adalah pasien,” tutur Resta.
Ia menambahkan bahwa pengalaman ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja kesehatan yang sesungguhnya.
“Setelah menempuh mata kuliah dan mengikuti agenda IPE di RSUA, mahasiswa diharapkan benar-benar memahami konsep IPE dan mampu mengimplementasikannya dalam perawatan pasien melalui komunikasi yang efektif, kolaborasi, dan kerja tim yang solid,” pungkasnya.
Melalui keterlibatan aktif dalam IPE, mahasiswa D4 MIK FIKES Umsida tidak hanya memperkuat kompetensi teknis, tetapi juga membangun pola pikir profesional yang berorientasi pada keselamatan pasien.
Pengalaman ini menjadi langkah awal dalam mencetak lulusan yang siap terjun ke dunia kerja kesehatan dengan akurasi data, etika profesi, dan kemampuan kolaborasi lintas disiplin.
Penulis: Elfira Armilia

















