mik.umsida.ac.id – Regulasi nasional mewajibkan setiap rumah sakit mengimplementasikan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), termasuk Rekam Medis Elektronik (RME), sebagai bagian dari peningkatan mutu layanan dan keselamatan pasien.
Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa implementasi RME tidak semudah menginstal sistem baru.
Hal inilah yang dikaji dalam penelitian kolaboratif Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) antara laboran dan dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Alfinda Ayu Hadikasari STr RMIK MKes, Cholifah SST MKes, Dr Umi Khoirun Nisak S KM M Epid.
Bersama dosen Informatika Uce Indahyanti MKom. Penelitian tersebut mengevaluasi pengaruh kualitas sistem terhadap penggunaan SIMRS di RS ‘Aisyiyah Siti Fatimah Tulangan Sidoarjo.
Hasilnya menunjukkan bahwa pemanfaatan fitur sistem baru mencapai sekitar 60% dari total fitur yang tersedia. Artinya, masih terdapat kesenjangan antara potensi teknologi dan optimalisasi penggunaannya.
Kendala Teknis yang Masih Mengemuka

Penelitian ini menemukan beberapa tantangan teknis yang berdampak langsung pada efektivitas penggunaan RME, seperti error sistem, waktu loading yang lama, hingga praktik double entry.
Double entry menjadi fenomena yang paradoks. Alih-alih menyederhanakan proses administrasi, tenaga kesehatan justru melakukan pencatatan ganda karena kekhawatiran data tidak tersimpan sempurna.
Baca Selengkapnya: Integrasi Data Rekam Medis Elektronik Dongkrak Akurasi Informasi Kesehatan
Dalam pelayanan kesehatan yang menuntut ketepatan waktu dan akurasi, gangguan teknis seperti ini dapat menambah beban kerja dan memperlambat pelayanan pasien.
Pada indikator kualitas sistem seperti response time dan accessibility, mayoritas responden memang menilai sistem cukup baik.
Namun, sebagian masih merasakan hambatan pada kecepatan akses dan integrasi antarunit layanan. Hal ini menunjukkan bahwa infrastruktur jaringan, kapasitas server, serta pemeliharaan sistem perlu ditingkatkan secara berkelanjutan.
Faktor SDM dan Adaptasi Budaya Digital

Melalui pendekatan HOT-Fit (Human, Organization, Technology Fit), penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan implementasi sistem informasi tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kesiapan manusia dan organisasi.
Indikator penggunaan sistem mencakup attitude, training, skill, motivation of use dan system acceptance.
Sebagian besar tenaga kesehatan memiliki sikap positif terhadap SIMRS dan rutin menggunakannya.
Namun, studi pendahuluan dalam penelitian menyebutkan bahwa kurangnya pelatihan menjadi salah satu penyebab belum optimalnya pemanfaatan fitur.
Baca Lainnya: Peran Strategis Mahasiswa D4 MIK Umsida dalam IPE Berbasis Kasus Klinis
Tenaga kesehatan yang telah lama bekerja dengan sistem manual membutuhkan waktu dan pendampingan untuk beradaptasi dengan sistem digital. Tanpa pelatihan berkelanjutan, sistem yang sebenarnya user friendly dapat terasa rumit dan membebani.
Selain itu, belum adanya sistem reward and punishment yang tegas dari manajemen rumah sakit turut memengaruhi tingkat optimalisasi penggunaan. Transformasi digital membutuhkan kepemimpinan yang kuat serta budaya kerja yang mendukung inovasi.
Antara Kualitas Sistem dan Tingkat Penggunaan

Hasil uji regresi menunjukkan bahwa kualitas sistem berpengaruh signifikan terhadap penggunaan SIMRS dengan nilai p = 0,0001. Namun kontribusinya hanya sebesar 11% (R² = 0,110).
Temuan ini menjadi refleksi penting. Artinya, meskipun kualitas sistem dinilai baik dari aspek data accuracy, user friendly, ease of learning, dan integration, faktor teknologi hanya menyumbang sebagian kecil terhadap tingkat penggunaan.
Sebagian besar faktor penentu justru berada pada aspek manusia dan organisasi. Digitalisasi bukan sekadar instalasi software, melainkan transformasi budaya kerja.
Cek Juga: Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial: Mempersiapkan Pendidik di Era Digital
Penelitian ini menegaskan bahwa implementasi RME membutuhkan pendekatan multidisipliner menggabungkan manajemen kesehatan, epidemiologi, rekam medis dan teknologi informasi.
Sinergi inilah yang menjadi fondasi keberhasilan digitalisasi layanan kesehatan.
RME seharusnya menjadi alat yang meningkatkan keselamatan pasien, mempercepat alur pelayanan dan mengurangi risiko kesalahan medis.
Namun tanpa komitmen manajemen, pelatihan berkelanjutan, serta perbaikan infrastruktur, sistem digital berisiko hanya menjadi formalitas regulasi.
Transformasi digital rumah sakit adalah perjalanan panjang. Tantangannya nyata, tetapi peluang perbaikannya juga besar.
Ketika sistem, SDM dan organisasi bergerak selaras, RME bukan hanya kewajiban administratif melainkan investasi masa depan pelayanan kesehatan yang lebih modern dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Sumber: Riset Dr Umi Khoirun Nisak, SKM M Epid
Penulis: Elfira Armilia

















