AI dalam Pendidikan Kesehatan: Peluang Inovasi atau Tantangan Etika Akademik?

mik.umsida.ac.id – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin terasa di lingkungan pendidikan tinggi.

Mahasiswa semakin akrab dengan berbagai platform berbasis AI seperti ChatGPT, Grammarly, hingga Canva AI untuk membantu aktivitas akademik.

Mulai dari menyusun kerangka laporan, merangkum materi perkuliahan, hingga memahami istilah ilmiah yang kompleks, semua dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efisien.

Baca Juga: Integrasi Data Rekam Medis Elektronik Dongkrak Akurasi Informasi Kesehatan

Namun, bagi mahasiswa ilmu kesehatan, penggunaan AI tidak sekadar soal kemudahan mengerjakan tugas.

Pola belajar yang dibangun selama masa kuliah akan membentuk cara berpikir, pengambilan keputusan dan sikap profesional ketika kelak terjun sebagai tenaga kesehatan.

Oleh karena itu, muncul pertanyaan penting: apakah AI benar-benar menjadi asisten belajar yang mendukung kompetensi calon tenaga kesehatan, atau justru mendorong budaya jalan pintas akademik yang berisiko melemahkan integritas dan tanggung jawab profesional?

AI sebagai Asisten Belajar Mahasiswa Ilmu Kesehatan
Keamanan data
Sumber : Istimewa

Dalam dunia kesehatan, pembelajaran menuntut pemahaman yang mendalam, ketelitian, serta kemampuan analisis yang kuat.

UNESCO dalam laporan Artificial Intelligence in Education menegaskan bahwa AI dapat meningkatkan kualitas pembelajaran apabila digunakan untuk mendukung proses berpikir manusia, bukan menggantikannya.

Bagi mahasiswa FIKES, AI dapat berperan sebagai alat bantu untuk memahami konsep medis dasar, menjelaskan istilah ilmiah, atau merangkum literatur kesehatan yang kompleks.

Cek Juga: Bekerja Sambil Kuliah? Alih Jenjang D4 MIK Umsida Tawarkan Sistem Fleksibel dan Prospektif

AI juga dapat membantu mahasiswa mengakses pengetahuan awal sebelum diskusi lebih lanjut dengan dosen atau praktisi.

Dalam konteks ini, AI berfungsi sebagai pendukung pembelajaran mandiri yang mempercepat proses pemahaman tanpa menghilangkan peran manusia sebagai pengambil keputusan utama.

George Siemens melalui teori connectivism menekankan bahwa pembelajar di era digital perlu mampu mengelola dan menghubungkan informasi secara kritis, bukan sekadar menerima konten mentah.

Di lingkungan akademik seperti Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, pemanfaatan AI dapat menjadi bagian dari adaptasi terhadap transformasi digital di bidang kesehatan.

Dengan catatan, mahasiswa tetap memposisikan AI sebagai asisten belajar, bukan sumber kebenaran mutlak. Sikap kritis dan reflektif tetap menjadi kunci utama.

Ketika AI Menjadi Jalan Pintas Akademik yang Berisiko

Permasalahan muncul ketika AI digunakan secara instan tanpa disertai proses pemahaman dan refleksi. Sebagian mahasiswa tergoda untuk menyalin hasil AI secara langsung demi menyelesaikan tugas dengan cepat.

Praktik ini tidak hanya melanggar etika akademik, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang bagi pembentukan karakter calon tenaga kesehatan.

OECD dalam laporan Education and Digital Transformation memperingatkan munculnya budaya learning shortcut, di mana proses belajar dipersingkat tanpa pendalaman makna.

Dalam konteks ilmu kesehatan, kebiasaan ini berbahaya karena dapat melemahkan kemampuan analisis, penalaran klinis, dan pengambilan keputusan yang kelak sangat menentukan keselamatan pasien.

Paul R. Maclure menekankan bahwa teknologi yang digunakan tanpa kesadaran etis dapat mengikis nilai-nilai profesionalisme.

Jika mahasiswa terbiasa mengandalkan jawaban instan, maka proses akademik kehilangan fungsinya sebagai latihan tanggung jawab, ketelitian dan kejujuran.

Padahal, profesi kesehatan menuntut integritas tinggi, karena keputusan yang diambil tidak hanya berdampak pada nilai akademik, tetapi juga pada kehidupan manusia.

Cek Selengkapnya: Penguatan Mutu Pendidikan Jadi Fokus Diskusi Akademik Terbuka di Umsida

Etika Penggunaan AI sebagai Fondasi Profesionalisme Kesehatan
MIK Umsida
Sumber: AI

Menghadapi realitas ini, pelarangan total penggunaan AI bukanlah solusi yang bijak.

Teknologi akan terus berkembang dan menjadi bagian dari sistem kesehatan modern.

Yang lebih penting adalah membangun kesadaran etis dan literasi digital di lingkungan kampus.

UNESCO menekankan pendekatan human-centered AI, yaitu pemanfaatan kecerdasan buatan yang tetap menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan utama.

Kampus memiliki peran strategis dalam membekali mahasiswa ilmu kesehatan dengan pemahaman etika penggunaan teknologi sejak dini.

Mahasiswa perlu disadarkan bahwa kebiasaan akademik hari ini akan memengaruhi kualitas praktik profesional di masa depan.

AI seharusnya digunakan untuk memperkaya pemahaman, bukan menggantikan tanggung jawab intelektual.

Pada akhirnya, AI dapat menjadi mitra belajar yang bermanfaat bagi mahasiswa FIKES jika digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.

Kualitas calon tenaga kesehatan tidak diukur dari seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan dari seberapa kuat integritas, nalar kritis, dan kepedulian terhadap nilai kemanusiaan yang dibangun selama proses pendidikan.

Sumber : UNESCO. (2021). Artificial Intelligence in Education: Challenges and Opportunities.

Penulis: Elfira Armilia

Bertita Terkini

PORMIKI Tekankan Profesionalisme Lulusan MIK pada Sumpah Profesi FIKES Umsida
December 18, 2025By
komprehensif
PKL Komprehensif MIK Umsida Wujudkan Kesiapan Mahasiswa Hadapi Tantangan Rekam Medis Elektronik
September 12, 2025By
pangan
MIK Umsida Hadirkan Solusi Cerdas Pangan Lokal untuk Pencegahan Stunting
September 10, 2025By
kompeten
100% Kompeten! Mahasiswa MIK Umsida Sukses Tembus UKOMNAS CBT dengan Persiapan Matang
September 4, 2025By
sensimik
SENSMIK 2025 Ungkap RME Jadi Kunci Visualisasi Data Lebih Cerdas dalam Revolusi Digital di Dunia Kesehatan
August 23, 2025By
MIK Umsida
MIK Umsida Siap Menjawab Tantangan Digitalisasi Layanan Kesehatan dengan Rekam Medis Elektronik
August 21, 2025By
MIKCAMP
HIMA MIK Umsida Gelar MIKCAMP 2025, Dorong Optimalisasi Diri Penuh Inspirasi
July 29, 2025By
PKL Sistem
Pembukaan PKL Sistem dan Subsistem RMIK MIK Umsida Dorong Mahasiswa Siap Hadapi Dunia Kerja
July 23, 2025By

Prestasi

Perjalanan Meiska Putri Yandri Raih Predikat Lulusan Terbaik MIK Umsida
January 25, 2026By
Lulusan Terbaik MIK Umsida, Maura Aulia Ismail Cerita Perjuangan dan Prosesnya
January 9, 2026By
Indah Diah Rahmawati Bagikan Perjalanan Menjadi Wisudawan Cumlaude MIK Umsida
November 23, 2025By
Laboran MIK Umsida Raih Best Presenter Lewat Inovasi Augmented Reality Terminologi Medis
October 30, 2025By
pangan
MIK Umsida Hadirkan Solusi Cerdas Pangan Lokal untuk Pencegahan Stunting
September 10, 2025By
Desain Interface
Syifa Suryaning Ati Raih Juara 1 Lomba Desain Interface Rekam Medis Elektronik Nasional
September 2, 2025By
dok istimewah mahasiswa
Inspirasi dari Lulusan Mahasiswa Inklusif: Kisah Perjuangan dan Motivasi Candra Nur Azizah di Prodi MIK FIKES
December 28, 2024By
jura 2 lomba video dalam acara HUT DPD PORMIKI Jawa Timur ke 28 Tahun
December 5, 2022By