Fikes.umsida.ac.id – Transformasi digital di bidang kesehatan telah membawa harapan besar terhadap peningkatan mutu layanan. Penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) di puskesmas, khususnya di wilayah Kulon Progo, menjadi salah satu bentuk nyata dari inovasi tersebut.
Baca Juga: SENSMIK 2025 Ungkap Transformasi Digital RME untuk Visualisasi Data Kesehatan Lebih Informatif
Namun, sebuah riset menunjukkan bahwa implementasi Rekam Medis Elektronik masih menghadapi berbagai hambatan serius, terutama terkait dengan akurasi kode diagnosis. “Meskipun teknologi sudah digunakan, kualitas data yang dihasilkan belum sepenuhnya optimal karena akurasi kode masih rendah,” tegas Laili Rahmatul Ilmi, Dosen peneliti Fikes Umsida.
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Pengasih I dan Pengasih II dengan melibatkan 234 data rekam medis. Hasilnya memperlihatkan bahwa lebih dari 70% kode diagnosis tidak akurat. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya menghadapi tantangan implementasi RME dengan serius agar efisiensi teknologi sejalan dengan akurasi data klinis yang dibutuhkan.
Efisiensi Teknologi yang Belum Sepenuhnya Menjawab Harapan

Secara teori, Rekam Medis Elektronik hadir untuk meningkatkan efektivitas komunikasi antar tenaga medis, meminimalisir kesalahan manual, serta menyimpan data pasien dengan lebih aman. Dalam praktiknya, RME memang memberi efisiensi tertentu, misalnya dalam pendokumentasian dan pemrosesan data.
Namun, riset menunjukkan bahwa efisiensi ini belum sepenuhnya menjawab harapan. Di Puskesmas Pengasih I, hanya 26% kode diagnosis yang akurat, sedangkan 74% sisanya tidak sesuai. Sementara di Puskesmas Pengasih II, akurasi kode hanya mencapai 30% dan 70% lainnya tidak tepat.
“Petugas sering merasa terbebani karena harus menginput data dari rekam medis manual ke sistem Rekam Medis Elektronik, terlebih ketika dokter tidak mau mengisi langsung,” ungkap salah satu temuan wawancara penelitian. Kondisi ini memperlihatkan bahwa meskipun teknologi tersedia, sumber daya manusia yang tidak siap sepenuhnya justru menciptakan potensi kesalahan baru.
Efisiensi yang dijanjikan oleh teknologi tidak akan maksimal tanpa dukungan faktor manusia dan metode yang baik. Artinya, sekadar menghadirkan Rekam Medis Elektronik tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kesiapan pengguna dan pengawasan yang memadai.
Akurasi Data Klinis sebagai Tantangan Utama
Salah satu temuan penting riset adalah rendahnya akurasi data klinis, khususnya pada kode diagnosis menggunakan ICD-10. Masalah ini terjadi karena tiga faktor utama: manusia, metode, dan mesin.
Pertama, dari sisi manusia, keterbatasan pemahaman tenaga kesehatan terhadap aturan pengkodean sering menyebabkan kesalahan. Banyak perawat dan bidan yang harus mengisi kode diagnosis tanpa pelatihan mendalam. “Belum ada kontrol dari kepala rekam medis terkait evaluasi ketepatan kode yang diisikan,” tulis Laili dalam hasil penelitiannya.
Kedua, dari sisi metode, standar prosedur operasional yang seharusnya menjadi acuan belum dijalankan secara konsisten. Misalnya, pasien kontrol atau kunjungan ulang kerap diberi kode sebagai kasus baru, yang pada akhirnya memengaruhi akurasi laporan morbiditas.
Ketiga, dari sisi mesin atau sistem, Rekam Medis Elektronik yang digunakan belum sepenuhnya user-friendly. Banyak item data yang tidak lengkap, seperti vital sign yang masih kosong hingga 60%. Hal ini membuat laporan kesehatan masyarakat menjadi bias dan kurang valid.
Padahal, data diagnosis yang akurat sangat krusial. Tanpa itu, pengambilan keputusan medis bisa salah arah, program pencegahan penyakit menjadi tidak efektif, dan kualitas layanan primer menurun.
Menghadapi Hambatan dengan Evaluasi dan Dukungan Kebijakan
Meski tantangan besar terlihat jelas, riset ini juga memberi harapan melalui sejumlah rekomendasi. Laili menekankan bahwa rapat rutin dan evaluasi data RME menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas. “Pengguna perlu memahami apa yang harus dilengkapi agar mutu data bisa terus meningkat,” tegasnya.
Selain evaluasi, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan adalah solusi yang tidak bisa ditunda. Pelatihan pengkodean ICD-10, pemahaman standar WHO, serta pendampingan dari pihak manajemen akan membantu mengurangi tingkat kesalahan.
Dari sisi sistem, optimalisasi RME perlu dilakukan. Aplikasi harus ramah pengguna, mendukung multi-user, dan mengikuti pedoman resmi seperti Permenkes No. 55 Tahun 2013 tentang rekam medis. Dukungan kebijakan ini akan membuat data klinis lebih lengkap, akurat, dan bermanfaat untuk laporan kesehatan nasional.
Jika langkah-langkah ini dijalankan, implementasi RME bukan hanya soal efisiensi teknologi, tetapi juga tentang bagaimana data klinis yang dihasilkan benar-benar dapat diandalkan untuk peningkatan mutu kesehatan masyarakat.
Baca Juga: MIK Umsida Siap Menjawab Tantangan Digitalisasi Layanan Kesehatan dengan Rekam Medis Elektronik
Hasil penelitian di Puskesmas Pengasih I dan II memperlihatkan bahwa implementasi Rekam Medis Elektronik masih menghadapi hambatan serius. Efisiensi teknologi belum sepenuhnya terwujud karena akurasi kode diagnosis masih rendah, dengan ketidakakuratan mencapai 70–74%.
Tantangan terbesar terletak pada faktor manusia, metode, dan mesin. Namun, dengan evaluasi rutin, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, dan optimalisasi sistem Rekam Medis Elektronik yang sesuai pedoman, hambatan ini bisa diatasi.
“Keakuratan data dalam rekam medis adalah fondasi layanan kesehatan primer. Tanpa itu, pelayanan tidak akan pernah mencapai kualitas yang diharapkan,” tutup Laili Rahmatul Ilmi dalam risetnya.
Sumber: Laili Rahmatul Ilmi
Penulis: Novia