Peran Prodi Manajemen Informasi Kesehatan Terhadap Perkembangan Aplikasi Digital Kesehatan

Aplikasi merupakan salah satu fasilitas pendukung yang mempermuda segala hal dalam melaksanakan suatu kegiatan, pengguna yang bila sebelum menggunakan aplikasi harus memiliki usaha lebih dalam melakukan aktivitasnya dengan adanya aplikasi pada suatu layanan tidak lagi mmembuat pengguna menghabiskan tenaganya.
Mengetahui manfaat adsnya aplikasi yang begitu besar, membuat setiap penyedia pelayanan salah satunya pelayanan kesehatan mulai berupaya mengembangkan aplikasi di setiap layanan yang diberikan. Untuk membahas lebih dalam terkait perkembangan aplikasi digital tersebut, Radio Suara Muslim Surabaya mengundang Ibu Umi Khoirun Nisak, SKM., M.Epid selaku dosen universitas Muhammadiya Sidoarjo dan Ketua Laboratorium Program Studi Manajemen Informasi Kesehatan, Alfinda Ayu Hadikasari selaku Mahasiswa Program Studi Manajemen Informasi Kesehatan dan Ibu Putri Anjar Sari Amd. Keb selaku Tip Promisi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo untuk menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut pada Hari Rabu, 4 September 2019.
Didalam kegiatan tersebut diangkat tema “Rendahnya Penggunaan Aplikasi Kesehatan Digital” sebagai topik pembahasan tersebut. Ibu Umi Khoirunnisa selaku pembicara dalam kegiatan tersebut memaparkan bahwasannya Indonesia kini mampu mengembangkan banyak nya aplikasi digital seperti diantaranya (Gojek, Goclean, Gosend) dan masih banyak aplikasi lainnya dan dalam dunia Kesehatan sendiri juga sudah mengembangkan salah satu aplikasi penunjang pelayanan kesehatan seperti salah satunya adalah aplikasi Telemedicine.
Aplikasi Telemedicine merupakan salah satu aplikasi pengobatan jarak jauh, yang mana pasien tidak lagi harus menemui dokter secara langsung atau face to face melainkan dengan memanfaatkan aplikasi Telemedicine untuk melakukan komunuikasi dengan dokter terkait keluhan sakit yang di deritanya. Menurut Ibu Umi Khoirunnisa “Di Indonesia, perjalanan ke arah kemudahan tersebut semakin terbuka, kini pengobatan jarak jauh semakin dimungkinkan, orang mulai menggunakan perangkat elektroniknya untuk berkonsultasi dengan dokter, berbagi informasi kesehatan antar sesama pasien, memesan dan membeli obat, dan bahkan untuk mengambil data kesehatan pasien.”
Masyarakat begitu antusias dan mulai mengandalkan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.akan tetapi untuk penggunaan aplikasi kesehatan digital masih sangat rendah di kalangan masyarakat hal tersebut dikarenakan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah sekitar 10% dari jumlah penduduk di Indonesia belum semua wilayah di Indonesia terjangkau dan memiliki kualitas internet yang baik.Sebanyak 61,2% memilih untuk tidak menggunakan aplikasi kesehatan karena kurang percaya (trust).Hal itu dikarenakan kekawatiran pengguna adalah mengenai keamanan data pribadi, miskomunikasi, akurasi diagnosis, dan perlindungan hukum bagi pengguna (media infokes.com)
Dalam kesempatan tersebut juga Ibu umi Khoirun menyampaikan bahwasannya adanya minim penghunaan aplikasi kesehatan “dikuatkan dengan regulasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 46/2017 tentang Strategi e-Kesehatan Nasional. Layanan Telemedicine. Disebutkan secara eksplisit pada pasal 65 dalam Peraturan Presiden No 82/2018 tentang Jaminan Kesehatan. BPJS Kesehatan bisa memanfaatkan telemedicine sebagai kompensasi atau pemenuhan pelayanan pada daerah yang belum tersedia fasilitas kesehatan. Namun, aspek yang lebih teknis dan terinci belum tersedia. Ini mencakup keandalan model bisnis, standar layanan, alur kerja, keselamatan pasien, perlindungan data, jaminan mutu, pembinaan dan pengawasan aplikasi e-Kesehatan (kominfo.go.id). Oleh karena itu, pendekatan baru diperlukan untuk mempercepat regulasi e-Kesehatan.”

Related Posts

Leave a Reply