mik.umsida.ac.id – Transformasi digital di bidang kesehatan bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan. Namun, kehadiran aplikasi kesehatan tidak otomatis menjamin dampak yang signifikan bagi penggunanya.
Di balik tampilan antarmuka yang menarik dan fitur yang lengkap, ada satu faktor krusial yang sering menentukan keberhasilan atau kegagalan sebuah inovasi digital yaitu terletak pada kualitas sistem.
Hal ini ditegaskan dalam penelitian pengembangan aplikasi deteksi dini anemia pada remaja yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen Manajemen Informasi Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (MIK FIKES Umsida).
Studi tersebut menunjukkan bahwa kualitas sistem memiliki hubungan yang kuat dengan kepuasan pengguna dan manfaat yang dirasakan.
Sistem yang Andal, Pengguna yang Percaya

Dalam konteks aplikasi kesehatan, kualitas sistem mencakup stabilitas, kecepatan akses, kemudahan penggunaan (user-friendly), serta minimnya gangguan teknis.
Sistem yang sering error, lambat, atau membingungkan akan membuat pengguna kehilangan kepercayaan, bahkan sebelum mereka merasakan manfaatnya.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kualitas sistem memiliki korelasi kuat dengan kepuasan pengguna (ρ = 0,74) dan manfaat bersih yang diperoleh pengguna (ρ = 0,72). Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan bahwa performa teknis berbanding lurus dengan pengalaman pengguna.
Ketika remaja sebagai pengguna yang mudah diakses, tidak rumit, dan responsif, mereka cenderung lebih sering memanfaatkannya. Sebaliknya, sistem yang tidak stabil dapat menimbulkan frustrasi dan membuat aplikasi ditinggalkan, meskipun tujuannya baik.
Lihat Juga: Antusiasme Remaja Menghidupkan Kembali Posyandu Remaja di Desa
Di bidang kesehatan, kepercayaan adalah segalanya. Pengguna harus yakin bahwa data yang mereka masukkan tersimpan dengan aman, informasi yang muncul akurat, dan sistem dapat diandalkan kapan pun dibutuhkan.
Kualitas Sistem Mendorong Intensitas Penggunaan
Keberhasilan aplikasi kesehatan tidak hanya diukur dari jumlah unduhan, tetapi dari seberapa seringnya tersebut digunakan. Dalam penelitian yang sama, hubungan antara kualitas sistem dan penggunaan aplikasi menunjukkan korelasi kuat (ρ = 0,70) .
Artinya, semakin baik kualitas sistem, semakin tinggi intensitas penggunaan ini logis. Sistem yang stabil dan mudah digunakan akan mendorong pengguna untuk kembali membuka aplikasi, menginput data, dan memanfaatkan fitur yang tersedia.
Pada aplikasi deteksi dini anemia, misalnya, pengguna dapat mencatat konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), memantau kadar hemoglobin, serta mengakses konsultasi online.
Namun fitur-fitur tersebut hanya akan berdampak jika sistem berjalan lancar.
Aplikasi kesehatan berbeda dengan aplikasi hiburan. Jika aplikasi hiburan mengalami gangguan, pengguna mungkin hanya merasa kesal.
Namun jika aplikasi kesehatan bermasalah, dampaknya bisa lebih serius karena berkaitan dengan pemantauan kondisi tubuh.
Oleh karena itu, pengembangan sistem harus memperhatikan pengalaman pengguna sejak tahap desain. Antarmuka yang sederhana, navigasi yang jelas, serta respon sistem yang cepat menjadi fondasi utama dalam membangun keterlibatan jangka panjang.
Kepuasan Pengguna dan Manfaat Nyata

Salah satu temuan paling signifikan dalam penelitian tersebut adalah korelasi antara kepuasan pengguna dan manfaat bersih yang mencapai ρ = 0,835 . Ini merupakan hubungan terkuat di antara seluruh variabel yang diteliti.
Temuan ini menunjukkan bahwa kepuasan bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan indikator keberhasilan sistem secara keseluruhan. Kepuasan lahir dari kombinasi kualitas sistem, kualitas informasi dan kualitas layanan. Namun kualitas sistem menjadi fondasi utama yang menopang semuanya.
Dalam aplikasi kesehatan, manfaat bersih dapat berupa peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku hidup sehat, efisiensi waktu, hingga deteksi dini kondisi medis. Jika sistem tidak bekerja optimal, maka manfaat tersebut sulit tercapai.
Cek Selengkapnya: MIK Umsida Hadirkan Solusi Cerdas Pangan Lokal untuk Pencegahan Stunting
Kualitas sistem juga berkaitan dengan keberlanjutan program kesehatan berbasis digital. Banyak aplikasi kesehatan gagal berkembang bukan karena idenya kurang baik, tetapi karena sistemnya tidak mampu mempertahankan kenyamanan pengguna.
Digitalisasi layanan kesehatan harus dilihat sebagai investasi jangka panjang. Membangun sistem yang andal membutuhkan perencanaan matang, uji coba berkelanjutan, serta evaluasi rutin berdasarkan umpan balik pengguna.
Pada akhirnya, keberhasilan aplikasi kesehatan bukan terletak pada seberapa canggih teknologinya, melainkan pada seberapa konsisten sistem tersebut mampu melayani kebutuhan pengguna.
Kualitas sistem bukan sekadar aspek teknis, tetapi fondasi kepercayaan, kepuasan, dan dampak nyata bagi kesehatan masyarakat.
Jika aplikasi kesehatan ingin benar-benar menjadi solusi preventif dan promotif, maka kualitas sistem harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Tanpa sistem yang kuat, inovasi hanya akan menjadi konsep.
Dengan sistem yang andal, teknologi dapat menjadi jembatan menuju generasi yang lebih sehat.
Sumber: Riset mahasiswa MIK Umsida
Penulis : Elfira Armilia

















