mik.umsida.ac.id – Diabetes Mellitus bukan lagi sekadar penyakit kronis biasa. Di balik tingginya angka kasus, terdapat fakta yang sering luput dari perhatian: usia menjadi faktor utama yang menentukan tingkat kematian pasien.
Hal ini terungkap dalam riset yang dilakukan oleh dosen Manajemen Informasi Kesehatan (MIK) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FIKES Umsida) melalui analisis data rekam medis pasien di rumah sakit.
Penelitian tersebut memanfaatkan pendekatan data mining untuk membaca pola kematian pasien diabetes secara lebih objektif. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok usia lanjut memiliki risiko kematian yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya .
Cek Juga: Aplikasi Kesehatan Kidney Guard Antar Mahasiswa Umsida Raih Penghargaan di Pilmapres VI 2026
Lansia Lebih Rentan terhadap Komplikasi
Dalam penelitian tersebut, data pasien dibagi menjadi beberapa kelompok usia. Hasilnya cukup jelas: pasien dengan rentang usia 56–90 tahun menjadi kelompok dengan angka kematian tertinggi.
Temuan ini memperkuat fakta bahwa semakin bertambah usia seseorang, semakin besar risiko komplikasi yang dapat terjadi akibat diabetes.
Hal ini tidak terlepas dari kondisi tubuh lansia yang cenderung mengalami penurunan fungsi organ. Sistem imun yang melemah, adanya penyakit penyerta, serta lambatnya proses pemulihan membuat pasien usia lanjut lebih rentan terhadap kondisi yang memburuk.
Tidak hanya itu, diabetes juga dikenal sebagai penyakit yang dapat memicu komplikasi serius seperti gangguan jantung, ginjal, hingga saraf. Pada lansia, risiko ini menjadi berlipat karena kondisi tubuh yang sudah tidak sekuat usia produktif.
Lihat Juga: Bahaya Formalin bagi Kesehatan yang Sering Diabaikan dalam Konsumsi Sehari-hari
Data Membuka Pola yang Selama Ini Tersembunyi
Menariknya, penelitian ini tidak hanya mengandalkan pengamatan biasa, tetapi menggunakan metode K-Means Clustering untuk mengelompokkan data pasien berdasarkan karakteristik tertentu. Dengan bantuan aplikasi analisis data, pola kematian pasien dapat terlihat lebih jelas dan terstruktur.
Dari 266 data pasien yang dianalisis, terbentuk tiga kelompok usia utama. Kelompok usia tertua menunjukkan jumlah pasien meninggal paling tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.
Sementara itu, faktor lain seperti lama rawat inap justru tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap tingkat kematian.
Temuan ini menjadi penting karena mampu mengubah cara pandang terhadap faktor risiko diabetes. Selama ini, banyak yang mengira bahwa lama perawatan menjadi penentu utama, padahal data menunjukkan sebaliknya.
Cek Selengkapnya: Peran Aplikasi Web dalam Monitoring Pelayanan Kesehatan
Pentingnya Pencegahan Sejak Dini

Hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa penanganan diabetes tidak bisa hanya dilakukan saat kondisi sudah parah. Pencegahan sejak usia muda menjadi langkah penting untuk menekan risiko komplikasi di masa depan.
Gaya hidup sehat seperti menjaga pola makan, rutin berolahraga, serta mengontrol kadar gula darah menjadi kunci utama. Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga perlu ditingkatkan, terutama bagi kelompok usia yang mulai memasuki fase rentan.
Bagi tenaga kesehatan, pemanfaatan data seperti ini dapat menjadi dasar dalam menentukan prioritas penanganan pasien. Dengan memahami kelompok mana yang paling berisiko, pelayanan kesehatan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.
Pada akhirnya, data tidak hanya menjadi angka, tetapi juga menjadi cerminan nyata kondisi kesehatan masyarakat. Dan dari data tersebut, kita belajar satu hal penting: usia bukan sekadar angka, tetapi faktor yang sangat menentukan dalam perjalanan penyakit diabetes.(Elfirarm)
Sumber: Riset Suci Ariani SKom MSc &Tim.

















