mik.umsida.ac.id – Program Studi D4 Manajemen Informasi Kesehatan (MIK) Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi (FIKP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi di sektor kesehatan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyelenggarakan kuliah tamu.
Bertema “AI-Driven Health Data Analytics: Transforming Medical Records into Clinical Intelligence” yang menghadirkan Dr Diana Barsasella sebagai narasumber.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak memahami bagaimana Artificial Intelligence (AI) dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan rekam medis dan analisis data kesehatan.
Tak hanya mengenalkan teknologi terbaru, kuliah tamu ini juga membuka wawasan mahasiswa mengenai pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi transformasi digital di bidang kesehatan.
AI Membantu Kinerja PMIK, Bukan Menggantikan Perannya
Dosen Prodi D4 MIK Umsida, Resta Dwi Y. STr Kes MKM, menjelaskan bahwa pemilihan tema tersebut didasari oleh semakin besarnya peran AI dalam sistem pelayanan kesehatan modern.
Teknologi ini kini mulai diterapkan untuk membantu berbagai proses, mulai dari analisis data kesehatan hingga prediksi clinical coding berdasarkan data yang telah diinput oleh tenaga kesehatan.
Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki pemahaman yang utuh agar tidak memandang AI sebagai ancaman bagi profesi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan (PMIK).
“AI saat ini menjadi salah satu isu utama dalam layanan kesehatan. Kami ingin mahasiswa memahami bahwa AI bukan hadir untuk menggantikan peran PMIK.” ujar Resta
Resta juga menjelaskan bahwa selain menjadi alat bantu yang mampu membuat pekerjaan lebih efektif, efisien, dan tetap berada di bawah kendali manusia.
Ia menambahkan, transformasi digital justru membuka peluang bagi tenaga PMIK untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
Proses pengolahan data yang sebelumnya membutuhkan waktu lama kini dapat dilakukan lebih cepat dengan bantuan AI, sementara keputusan akhir tetap berada di tangan tenaga profesional.
Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa didorong untuk memiliki pola pikir adaptif sehingga siap menghadapi kebutuhan dunia kerja yang semakin mengandalkan teknologi digital.
Big Data Kesehatan Jadi Peluang Baru untuk Penelitian

Selain membahas penerapan AI dalam pelayanan kesehatan, mahasiswa juga dikenalkan pada potensi big data sebagai sumber penelitian yang bernilai tinggi.
Resta menjelaskan bahwa jutaan data kesehatan yang tersimpan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan dapat diolah menjadi informasi strategis untuk mendukung pengambilan keputusan, pengembangan layanan, hingga penelitian ilmiah.
“Data kesehatan yang jumlahnya sangat besar memiliki potensi luar biasa. Dengan bantuan AI, data tersebut bisa dianalisis menjadi informasi yang bermanfaat bagi rumah sakit, institusi pendidikan, maupun masyarakat, tentunya tetap dengan pengawasan manusia agar hasilnya akurat dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Ia berharap mahasiswa mulai melihat bahwa penelitian tidak hanya bertumpu pada data primer.
Data sekunder yang tersedia dalam jumlah besar juga dapat dimanfaatkan melalui pendekatan data mining, machine learning, maupun metode analitik lainnya.
Bekal tersebut diharapkan mampu memperluas kompetensi mahasiswa sekaligus mendorong lahirnya riset-riset inovatif yang relevan dengan perkembangan teknologi kesehatan.
Kurikulum Berbasis AI Siapkan Lulusan yang Siap Bersaing

Sebagai bentuk komitmen menghadapi era digital, Prodi D4 MIK Umsida juga telah mengintegrasikan pembelajaran berbasis AI ke dalam kurikulumnya.
Upaya ini dilakukan agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri kesehatan masa depan.
Resta mengungkapkan bahwa prodi telah menambahkan beberapa mata kuliah pilihan, seperti Big Data, Artificial Intelligence (AI) dan Clinical Decision Support System (CDSS).
Mulai semester 8 tahun 2026, mahasiswa sudah dapat mengambil mata kuliah AI dengan materi yang disusun mengikuti perkembangan transformasi digital di sektor kesehatan.
Menurutnya, langkah ini merupakan investasi jangka panjang agar mahasiswa tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memanfaatkannya secara bijaksana.
“Kami berharap mahasiswa tidak lagi melihat AI hanya dari sisi negatif. Teknologi ini harus dimanfaatkan sebagai alat yang membantu pekerjaan, mendukung penelitian yang relevan dengan perkembangan zaman, serta berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan,” tutup Resta.(Elfirarm)


















