mik.umsida.ac.id -Pelayanan kesehatan di rumah sakit tidak hanya bergantung pada kompetensi individu, tetapi juga pada kerja sama tim yang solid.
Namun, dalam praktiknya, kolaborasi antara dokter dan koder masih menjadi tantangan yang sering terabaikan. Padahal, hubungan keduanya sangat menentukan keakuratan data dan kualitas pelayanan pasien.
Riset yang dilakukan oleh dosen Manajemen Informasi Kesehatan (MIK) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FIKES Umsida), Resta Dwi Y. STrKes MKM, Suci Ariani SKom MSc.
Baca juga: Perkuat Mutu Pendidikan Kesehatan, Umsida Jadi Rujukan Implementasi STIKES Muhammadiyah Bojonegoro
Dan dosen Fisioterapi Herista Novia Widanti Ftr MFis menjelaskan bahwa kurangnya komunikasi antara dokter dan koder menjadi salah satu penyebab ketidakakuratan pengodean diagnosis .
Komunikasi yang Terputus Picu Kesalahan Data

Dalam proses pelayanan, dokter bertugas menegakkan diagnosis dan mencatat kondisi pasien, sementara koder menerjemahkan informasi tersebut ke dalam kode diagnosis sesuai standar ICD-10. Idealnya, kedua profesi ini saling terhubung dan berkomunikasi secara aktif.
Namun, dalam penelitian ini ditemukan bahwa ketika terdapat data yang tidak lengkap atau tidak jelas, koder sering kali tidak melakukan konfirmasi kepada dokter. Akibatnya, kode diagnosis yang dihasilkan menjadi tidak akurat.
Lihat Juga: PKL D4 MIK Umsida Jadi Jembatan Mahasiswa Menuju Dunia Kerja Kesehatan
“Ketika informasi dalam rekam medis tidak lengkap, koder tidak selalu melakukan konfirmasi kepada dokter,” sebagaimana dijelaskan dalam penelitian tersebut.
Kondisi ini menunjukkan adanya celah komunikasi yang berpotensi menimbulkan kesalahan dalam sistem pelayanan kesehatan.
Dampak Kolaborasi yang Lemah terhadap Pelayanan
Kurangnya kolaborasi antara dokter dan koder tidak hanya berdampak pada ketidakakuratan data, tetapi juga memengaruhi berbagai aspek pelayanan rumah sakit. Mulai dari kesalahan pengodean diagnosis, gangguan proses klaim, hingga ketidaksesuaian laporan kesehatan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kualitas pelayanan dan kepercayaan terhadap sistem kesehatan. Padahal, setiap data yang tercatat dalam rekam medis menjadi dasar dalam pengambilan keputusan medis dan administratif.
Cek Juga: Teknologi AI Bantu Deteksi Osteoarthritis Lebih Cepat dan Akurat
Selain itu, komunikasi yang lemah juga dapat memperlambat proses kerja, karena kesalahan yang terjadi harus diperbaiki di tahap berikutnya.
Kolaborasi Antar Profesi Jadi Kunci Solusi
Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan penguatan kolaborasi antar tenaga kesehatan, khususnya antara dokter dan koder. Konsep Interprofessional Collaboration Practice (IPC) menjadi salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas kerja tim di rumah sakit.
Melalui kolaborasi yang baik, setiap profesi dapat saling melengkapi dan memastikan bahwa informasi yang dihasilkan benar-benar akurat. Dokter perlu lebih detail dalam mencatat diagnosis, sementara koder harus proaktif dalam melakukan klarifikasi jika menemukan data yang kurang lengkap.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya membangun budaya komunikasi terbuka di lingkungan rumah sakit. Dengan komunikasi yang efektif, kesalahan dalam pengodean dapat diminimalisir.
Pada akhirnya, pelayanan kesehatan bukanlah hasil kerja individu, melainkan kolaborasi banyak pihak. Ketika dokter dan koder dapat bekerja secara sinergis, kualitas pelayanan pun akan meningkat secara signifikan.
Sumber: Riset Resta Dwi Y. STrKes MKM & Tim
Penulis: Elfira Armilia

















