mik.umsida.ac.id – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FIKES Umsida).
Kali ini, penghargaan datang dari ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (PILMAPRES) VI Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) 2026.
Mahasiswa Program Studi D4 Manajemen Informasi Kesehatan (MIK), Syifa’ Suryaning Ati,
berhasil meraih predikat Terbaik pada Kategori Pemberdayaan Masyarakat.
Baca Juga: Angkat Isu Kesehatan Mental, Mahasiswa MIK Umsida Juara 3 Tingkat Nasional
Penghargaan tersebut diberikan atas gagasan inovatif yang menggabungkan teknologi digital dengan upaya peningkatan kesehatan masyarakat.
Bagi Syifa’, pencapaian ini menjadi motivasi untuk terus menghadirkan program yang memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan.
“Saya sangat bersyukur dan bahagia atas penghargaan ini. Semoga bisa menjadi penyemangat untuk terus mengembangkan program yang lebih luas manfaatnya bagi masyarakat,” ungkapnya.
Kidney Guard, Inovasi Digital untuk Menjaga Kesehatan Ginjal

Dalam kompetisi tersebut, Syifa’ memperkenalkan sebuah aplikasi bernama Kidney Guard, sebuah platform digital yang dirancang untuk membantu masyarakat meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan ginjal dan mencegah risiko gagal ginjal kronis sejak dini.
Ide tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap meningkatnya jumlah kasus penyakit ginjal yang banyak dipengaruhi oleh pola hidup kurang sehat.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi menjadi salah satu cara efektif untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Aplikasi Kidney Guard dilengkapi berbagai fitur yang mendukung gaya hidup sehat, seperti pengingat konsumsi air minum, kalkulator asupan gula, garam, dan lemak, modul edukasi kesehatan, serta fitur pemantauan mandiri kondisi pengguna.
Lihat Juga: PKL D4 MIK Umsida Jadi Jembatan Mahasiswa Menuju Dunia Kerja Kesehatan
“Kami ingin menghadirkan solusi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena masyarakat saat ini sangat dekat dengan smartphone, aplikasi ini diharapkan dapat membantu membangun kebiasaan hidup sehat secara mandiri,” jelas Syifa’.
Melalui pendekatan tersebut, aplikasi tidak hanya berfungsi sebagai alat pencatat aktivitas kesehatan, tetapi juga menjadi media edukasi yang mendorong perubahan perilaku secara berkelanjutan.
Tantangan Persiapan dan Dukungan Kampus

Di balik keberhasilan tersebut, Syifa’ mengaku menghadapi tantangan dalam menyampaikan informasi kesehatan yang cukup kompleks agar mudah dipahami oleh masyarakat umum. Ia harus memastikan materi yang disampaikan tetap akurat namun tidak sulit dipahami.
Untuk mengatasi hal tersebut, ia banyak melakukan diskusi dengan dosen pembimbing serta memperkuat referensi melalui berbagai jurnal ilmiah dan sumber terpercaya.
“Tantangan terbesarnya adalah menerjemahkan isu kesehatan yang rumit menjadi informasi yang sederhana dan mudah diterapkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi dukungan dari Program Studi MIK dan para dosen Umsida yang memberikan pendampingan selama proses persiapan kompetisi.
Menurutnya, pengalaman mengikuti PILMAPRES bukan hanya tentang meraih penghargaan, tetapi juga menjadi sarana belajar, mengembangkan kemampuan, dan menguji keberanian untuk membawa ide ke tingkat yang lebih luas.
Prestasi yang diraih Syifa’ menjadi bukti bahwa mahasiswa Umsida mampu menghadirkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
Diharapkan capaian ini dapat menginspirasi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan berkontribusi melalui solusi nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat.(Elfirarm)

















